Orang Tak Dikenal
Setelah kemarin ada cerita dari
J.S. Adams, kali ini saya ingin berbagi lagi cerita dari penulis yang
sama. Judulnya “Strangers” atau orang yang tak dikenal.
Dikisahkan ada seorang pria kaya raya dan tiga anak
perempuannya yang tinggal di sebuah rumah besar dan indah. Dari kejauhan,
terlihat juga rumah-rumah yang ditinggali oleh para tukang kayu, pembuat kapal,
dan banyak lagi orang dengan profesi berbeda. Banyak dari mereka termasuk orang
yang jujur, tapi banyak juga yang terlalu egois karena terbuai kemewahan harta
benda.
Pria kaya raya tadi punya rencana untuk menghapus sifat
tersebut, dan ia memutuskan agar ketiga putrinya menyamar menjadi orang miskin.
Masing-masing dari mereka diberi sekantung emas untuk diberikan pada orang yang
mau menolong mereka.
Kemudian, pria tadi dan ketiga anaknya mulai berkeliling. Di
rumah pertama, mereka mengetuk pintu dan seseorang pun membukakan pintu dan
berkata, “Tidak. Kami tidak punya kamar atau makanan untuk pengemis.” Lalu
menutup pintu.
Di rumah berikutnya, mereka mengetuk pintu lalu berkata pada
orang yang membukakan pintu “bisakah Anda memberi makan dan tempat berlindung
untuk kami?”
“Kami tak punya makanan untuk dibuang-buang, dan rumah kami
hampir tidak cukup untuk diri kami sendiri.” Lalu menutup pintu.
Mereka berkata pada ayah mereka, “haruskah kita teruskan?”.
Ayah mereka menjawab, “Masih ada dua lagi. Kita lihat siapa yang tidak egois.
Karena kalian sebenarnya tidak membutuhkan bantuan, kalian bisa berhenti jika
ditolak.”
Sampailah mereka di rumah berikutnya.
“Yang ini kelihatan lebih meriah daripada yang lain. Kita
pasti akan diterima.” Dan sang ayah tetap mengawasi mereka sambil bersembunyi.
Ketika pintu dibuka, muncullah seorang gadis. “Bisakah kau
memberi kami makan dan tempat berteduh selama satu malam?” kata salah seorang
dari mereka.
“Tidak. Kami baru saja menghabiskan uang untuk saudara kami,
Jack, yang baru saja kembali dari laut. Kami juga tidak bisa karena kami tidak
punya satu kamarpun yang tersisa, sebab semua teman-teman kami ada di sini.”
“Tapi kami lelah, dan butuh tempat beristirahat dan makanan”
Kata salah seorang dari mereka sambil melihat meja yang penuh dengan makanan.
“Ya, tapi kami hanya punya untuk diri kami sendiri dan
teman-teman kami. Bukan untuk pengemis” kata gadis itu, lalu menutup pintu.
“Haruskah kami melanjutkan, ayah?” kata mereka.
“Satu kali ini saja, ini yang terakhir.” Katanya sambil
mengantar mereka ke rumah seorang janda miskin.
Mereka berhenti sejenak di depan rumah, karena mereka
mendengar suara seseorang yang sedang berdoa, “Berilah rizki pada hamba,
maafkan kesalahan hamba, dan jangan biarkan hamba tergoda.”
Ia kemudian berdiri setelah mendengar suara ketukan pintu.
Setelah membuka pintu, ia tersenyum pada ketiga gadis tadi.
“Aku punya tempat berteduh, tapi tak punya makanan.
Masuklah.”
Mereka kemudian masuk.
“Aku tak punya makanan, tapi marilah dekat perapianku ini.
Udara di luar sangat dingin, dan kalian pasti butuh istirahat.”
Ia kemudian berkata, “Aku senang kalian datang sekarang, aku
tak punya bahan bakar lagi, dan jika kalian datang besok pasti di sini gelap
dan dingin.”
Ketiga gadis tadi kemudian mengeluarkan emas yang ada di
kantung mereka. Wanita tadi pun terkejut dan tidak bisa berkata-kata
melihatnya.
“Ini dari ayah kami, karena Anda telah menolong kami yang
sedang menyamar”. lalu mereka meletakkan emas di meja.
“Tuhan pasti akan memberi rizki pada orang yang mau membantu
orang lain.” kata sang ayah yang kemudian muncul.
Pagi harinya, orang-orang ramai membicarakan emas yang
didapat oleh wanita tadi. Mereka menyesal kenapa mereka tidak menolong tiga
gadis yang menyamar tadi.
“Biarlah pengalaman ini menjadi pelajaran untuk seumur hidup
kalian, agar menolong orang lain yang sedang membutuhkan.”
“Tapi mereka sebenarnya tidak kelaparan dan kedinginan!”
Kata salah seorang dari penduduk.
“Kalian menghadapi hal yang sama, karena sebenarnya saat itu
kalian semua tidak tahu bahwa mereka menyamar.” Mereka pun terdiam, karena itu
memang benar.
Tapi pelajaran tersebut tidak hanya bertahan sementara,
sebab mereka telah berubah dan tidak pernah lagi menutup pintu untuk orang
asing yang sedang membutuhkan.
"Kesempatan-kesempatan besar untuk membantu
orang lain jarang datang, tapi yang kecil ada di sekeliling kita setiap
hari."
Sally Koch
Orang Tak Dikenal
Reviewed by Pangeran Dari Edolas
on
20.43
Rating:
Reviewed by Pangeran Dari Edolas
on
20.43
Rating:
Tidak ada komentar: